Saya suka mengamati gaya pacaran teman-teman saya. 7 dari 10 orang dari mereka, mengatakan bahwa dalam mengambil keputusan untuk mengajak main teman cowonya adalah perempuan. Kemudian mereka juga mengatakan bahwa mereka lah para kaum wanita yang mengeluarkan sejumlah uang untuk membayarkan kegiatan pacaran mereka.
Waktu saya dan sahabat saya belanja ke Pasar Baru, kemudian saya membeli pakaian tidur di emperan Pasbar (Tau Kan ??), trus si Emang nya bilang “Ga sekalian untuk pacarnya Neng??” kemudian saya sontak menjawab “Idih males banget bang, masa cewe harus ngebeliin cowo”, dan si emang kemudian membalas, “Emangnya perempuan ajah yang matre, laki-laki juga sekarang mah matre Neng!!”, saya jadi males, dan setelah beres saya langsung pergi. Kemudian saya berpikir kembali, apakah benar sekarang begitu banyaknya jumlah perempuan sehingga menjadikan hal di atas terjadi ?? Karena selama saya pacaran, saya memberi kalau memang ada moment saja. Apakah para wanita merasa “Takut” mereka tidak memiliki pacar?? Atau jangan-jangan memang laki-laki saja yang tidak tahu diri??
Di rumah, ibu saya adalah “penguasa” untuk hampir semua hal. Bayangkan saja, bagaimana tidak, waktu itu yang memutuskan saya sekolah di mana ibu saya, urusan dapur sudah jelas sama beliau, memutuskan untuk membeli rumah lagi ibu juga, bahkan yang memutuskan saya harus menerima pekerjaan yang saat ini jalani atau tidak juga sama ibu. Jadi memang benar sepertinya beliau adalah “penguasa” rumah dan seisinya.
Saat ini peranan ibu dalam dunia pemasaran sangatlah besar. Percayakah Anda ?? Saat ini pantaslah kita mengatakan bahwa “Ini Adalah Dunianya Kaum Ibu”. Kenapa demikian? Menurut hasil riset Mark Plus, bahwa di Indonesia ini sebanyak 2000 ibu mengatakan bahwa keputusan pembelian untuk keluarga berada di tangan ibu. Dimulai dari peralatan dapur, pakaian anak, obat bebas, sekolah, hingga liburan keluarga. Bahkan, bersama-sama dengan suami, ibu mengambil keputusan yang penting untuk produk furniture rumah, asuransi, bank untuk menabung, dll. Tapi 70% dari mereka menurut BSM Media Inc, para ibu tidak menerima pelayanan yang baik dari perusahaan, padahal sudah jelas kan yang banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan adalah ibu.
Kenalilah lebih jauh pasar keluarga.
Kanapa kita perlu membidik pasar keluarga? Karena pada umumnya pasar keluarga ini memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Keperluan keluarga yang meliputi ayah, ibu, dan anak, kemudian kebutuhan tersebut di perlukan secara kontinuitas, maka seorang ibu dalam memutuskan memilih produk yang akan di beli, akan di pikirkan matang-matang. Jika tidak ada suatu alasan yang kuat maka mereka pun tidak akan dengan mudah berpindah ke merek lain. Keluarga merupakan pasar yang challenging, mengapa demikian ? Jika sebuah keluarga sudah menetapkan pilihan terhadap satu merek, maka merek tersebut akan di gunakan untuk jangka panjang, tapi jika mereka kecewa dengan produk tersebut, maka mereka tidak segan-segan untuk meninggalkan produk tersebut dan berpindah ke merek lain. Jadi, jangan pernah membuat segment keluarga itu kecewa.
Menangkanlah hati ibu.
Untuk dapat memenangkan hati ibu, kita harus tahu terlebih dahulu kebutuhan dan keinginan dari ibu. Content dan contex menjadi hal yang penting dalam hal ini. Misalnya sampo Lifeboy untuk keluarga. Isi (content) sampo tersebut menerangkan bahwa dengan satu jenis sampo dapat memenuhi ayah, ibu, dan si anak. Iklan ini menampilkan kebersamaan keluarga (contex). Selain itu bagi seorang ibu anak adalah segala-galanya. Seorang ibu akan mudah tersentuh jika berbicara mengenai kesehatan anaknya. Ibu adalah orang yang paling perduli mengenai kesehatan ibunya. Bahkan pengalaman saya sich, saat saya sakit dan sempat selama 3 bulan tidak bisa bangun, orang yang paling menderita adalah ibu saya, alasannya karena saat saya mengeluh dialah orang yang pertama datang, dan saat tertidur pun, dialah satu-satunya orang yang masih bangun di samping saya. Jadi jelas bagi seorang ibu anak adalah segala-galanya. Hal ini bisa dimanfaat kan oleh pemasar, misalnya Cap Lang dengan tag line-nya “Buat anak kok coba-coba!”. Iklan tersebut bisa meyakinkan para ibu, bahwa produk untuk anaknya tidak boleh dijadikan bahan coba-coba, sehingga akan memengaruhi psikologi si ibu, dan jika berhasil, maka ibu tersebut akan memilih Cap Lang sebagai minyak angin yang mewakili kesehatan untuk anaknya.
Jagalah kepercayaan mereka.
Tahukan Anda biasanya jika seorang ibu sudah kecewa pada satu toko, mereka pada umumnya tidak mau melakukan pembelian ulang, dan mereka akan dengan cepat menyebarkan keburukannya kepada tetangga, saudara, temannya. (ya, maklumlah salah satu kegemaran wanita itu kan nge-gosip, apalagi akan semakin sip kalau keanehan, atau keburukannya semakin banyak, hehe!) Kemudian biasanya tetangga, saudara, dan temannya melakukan hal yang sama, yakni berpindah ke toko lain, lantas apa yang di dapat oleh perusahaan? Penurunan penjualan. Maka janganlah sekali-kali membuat konsumen ibu kecewa. Jadilah sebuah produk yang memiliki komitmen tinggi. Anda harus dapat di andalkan. Jika produk Anda meng-klaim sebagai produk termurah, maka produk Anda harus dapat membuktikannya. Jika produk Anda menjanjikan akan memberikan piring gratis setiap pembelian sabun cuci piring, maka saat mereka membeli piring tersebut harus ada, jangan sampai ada perkataan habis.
Hargai waktu ibu!.
Pada umumnya dalam melakukan suatu kegiatan seorang ibu biasanya membagi pikirannya kepada masalah/kegiatan lain. Dulu sebelum banyak produk yang efisien dan teknologi cepat, biasanya ibu mengerjakan satu pekerjaan dengan membagi pikiran untuk pekerjaan lain. Tapi setelah ada teknologi baru, misalnya mesin cuci, maka saat mencuci dengan mesin cuci, seorang ibu juga bisa melakukan kegiatan lain seperti masak atau setrika, (ya, seperti ibu saya gitu dech…). Jika saat berbelanja di supermarket, seorang ibu harus mengantri di kasir, maka buatkan banyak kasir, seperti di Care four, Hypermart, dan Yogya, sehingga ibu tersebut tidak perlu mengantri panjang untuk melakukan pembayaran.
Word Of Moms.
Anda mungkin sudah bisa membaca maksud tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa ibu itu senang sekali merekomendasikan apa yang ia rasakan. (means :ngegosip). Seorang ibu biasanya senang mengikuti suatu komunitas, seperti pengajian, arisan. Saat berkumpul biasanya mereka saling berbagi rasa dan saling memengaruhi. Tidak dapat dihindari bahwa biasanya jika sedang arisan biasanya ibu sering merekomendasikan produknya kepada teman-temannya, apalagi kalau produk tersebut berkesan di benak sang ibu. (kesan yang sangat baik dan sangat buruk tentunya pasti di lontarkan, jadi berhati-hatilah terhadap produk Anda!). Untuk produk peralatan rumah tangga biasanya sering menggunakan jasa komunitas ini, dengan sebutan demo masak, atau apalah. Tapi perlu di sadari bawa word of mom’s merupakan salah satu pembentuk loyalitas mereka terhadap satu merek, dan word of mom’s bisa saja menjadi boomerang jika merek yang di maksud mengecewakan.
Saya yakin prinsip-prinsip di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak strategi yang dapat dilakukan untuk membidik pasar ibu, tapi paling tidak dengan prinsip-prinsip di atas, dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi Anda yang merasa memerlukan.
Waktu saya dan sahabat saya belanja ke Pasar Baru, kemudian saya membeli pakaian tidur di emperan Pasbar (Tau Kan ??), trus si Emang nya bilang “Ga sekalian untuk pacarnya Neng??” kemudian saya sontak menjawab “Idih males banget bang, masa cewe harus ngebeliin cowo”, dan si emang kemudian membalas, “Emangnya perempuan ajah yang matre, laki-laki juga sekarang mah matre Neng!!”, saya jadi males, dan setelah beres saya langsung pergi. Kemudian saya berpikir kembali, apakah benar sekarang begitu banyaknya jumlah perempuan sehingga menjadikan hal di atas terjadi ?? Karena selama saya pacaran, saya memberi kalau memang ada moment saja. Apakah para wanita merasa “Takut” mereka tidak memiliki pacar?? Atau jangan-jangan memang laki-laki saja yang tidak tahu diri??
Di rumah, ibu saya adalah “penguasa” untuk hampir semua hal. Bayangkan saja, bagaimana tidak, waktu itu yang memutuskan saya sekolah di mana ibu saya, urusan dapur sudah jelas sama beliau, memutuskan untuk membeli rumah lagi ibu juga, bahkan yang memutuskan saya harus menerima pekerjaan yang saat ini jalani atau tidak juga sama ibu. Jadi memang benar sepertinya beliau adalah “penguasa” rumah dan seisinya.
Saat ini peranan ibu dalam dunia pemasaran sangatlah besar. Percayakah Anda ?? Saat ini pantaslah kita mengatakan bahwa “Ini Adalah Dunianya Kaum Ibu”. Kenapa demikian? Menurut hasil riset Mark Plus, bahwa di Indonesia ini sebanyak 2000 ibu mengatakan bahwa keputusan pembelian untuk keluarga berada di tangan ibu. Dimulai dari peralatan dapur, pakaian anak, obat bebas, sekolah, hingga liburan keluarga. Bahkan, bersama-sama dengan suami, ibu mengambil keputusan yang penting untuk produk furniture rumah, asuransi, bank untuk menabung, dll. Tapi 70% dari mereka menurut BSM Media Inc, para ibu tidak menerima pelayanan yang baik dari perusahaan, padahal sudah jelas kan yang banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan adalah ibu.
Kenalilah lebih jauh pasar keluarga.
Kanapa kita perlu membidik pasar keluarga? Karena pada umumnya pasar keluarga ini memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Keperluan keluarga yang meliputi ayah, ibu, dan anak, kemudian kebutuhan tersebut di perlukan secara kontinuitas, maka seorang ibu dalam memutuskan memilih produk yang akan di beli, akan di pikirkan matang-matang. Jika tidak ada suatu alasan yang kuat maka mereka pun tidak akan dengan mudah berpindah ke merek lain. Keluarga merupakan pasar yang challenging, mengapa demikian ? Jika sebuah keluarga sudah menetapkan pilihan terhadap satu merek, maka merek tersebut akan di gunakan untuk jangka panjang, tapi jika mereka kecewa dengan produk tersebut, maka mereka tidak segan-segan untuk meninggalkan produk tersebut dan berpindah ke merek lain. Jadi, jangan pernah membuat segment keluarga itu kecewa.
Menangkanlah hati ibu.
Untuk dapat memenangkan hati ibu, kita harus tahu terlebih dahulu kebutuhan dan keinginan dari ibu. Content dan contex menjadi hal yang penting dalam hal ini. Misalnya sampo Lifeboy untuk keluarga. Isi (content) sampo tersebut menerangkan bahwa dengan satu jenis sampo dapat memenuhi ayah, ibu, dan si anak. Iklan ini menampilkan kebersamaan keluarga (contex). Selain itu bagi seorang ibu anak adalah segala-galanya. Seorang ibu akan mudah tersentuh jika berbicara mengenai kesehatan anaknya. Ibu adalah orang yang paling perduli mengenai kesehatan ibunya. Bahkan pengalaman saya sich, saat saya sakit dan sempat selama 3 bulan tidak bisa bangun, orang yang paling menderita adalah ibu saya, alasannya karena saat saya mengeluh dialah orang yang pertama datang, dan saat tertidur pun, dialah satu-satunya orang yang masih bangun di samping saya. Jadi jelas bagi seorang ibu anak adalah segala-galanya. Hal ini bisa dimanfaat kan oleh pemasar, misalnya Cap Lang dengan tag line-nya “Buat anak kok coba-coba!”. Iklan tersebut bisa meyakinkan para ibu, bahwa produk untuk anaknya tidak boleh dijadikan bahan coba-coba, sehingga akan memengaruhi psikologi si ibu, dan jika berhasil, maka ibu tersebut akan memilih Cap Lang sebagai minyak angin yang mewakili kesehatan untuk anaknya.
Jagalah kepercayaan mereka.
Tahukan Anda biasanya jika seorang ibu sudah kecewa pada satu toko, mereka pada umumnya tidak mau melakukan pembelian ulang, dan mereka akan dengan cepat menyebarkan keburukannya kepada tetangga, saudara, temannya. (ya, maklumlah salah satu kegemaran wanita itu kan nge-gosip, apalagi akan semakin sip kalau keanehan, atau keburukannya semakin banyak, hehe!) Kemudian biasanya tetangga, saudara, dan temannya melakukan hal yang sama, yakni berpindah ke toko lain, lantas apa yang di dapat oleh perusahaan? Penurunan penjualan. Maka janganlah sekali-kali membuat konsumen ibu kecewa. Jadilah sebuah produk yang memiliki komitmen tinggi. Anda harus dapat di andalkan. Jika produk Anda meng-klaim sebagai produk termurah, maka produk Anda harus dapat membuktikannya. Jika produk Anda menjanjikan akan memberikan piring gratis setiap pembelian sabun cuci piring, maka saat mereka membeli piring tersebut harus ada, jangan sampai ada perkataan habis.
Hargai waktu ibu!.
Pada umumnya dalam melakukan suatu kegiatan seorang ibu biasanya membagi pikirannya kepada masalah/kegiatan lain. Dulu sebelum banyak produk yang efisien dan teknologi cepat, biasanya ibu mengerjakan satu pekerjaan dengan membagi pikiran untuk pekerjaan lain. Tapi setelah ada teknologi baru, misalnya mesin cuci, maka saat mencuci dengan mesin cuci, seorang ibu juga bisa melakukan kegiatan lain seperti masak atau setrika, (ya, seperti ibu saya gitu dech…). Jika saat berbelanja di supermarket, seorang ibu harus mengantri di kasir, maka buatkan banyak kasir, seperti di Care four, Hypermart, dan Yogya, sehingga ibu tersebut tidak perlu mengantri panjang untuk melakukan pembayaran.
Word Of Moms.
Anda mungkin sudah bisa membaca maksud tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa ibu itu senang sekali merekomendasikan apa yang ia rasakan. (means :ngegosip). Seorang ibu biasanya senang mengikuti suatu komunitas, seperti pengajian, arisan. Saat berkumpul biasanya mereka saling berbagi rasa dan saling memengaruhi. Tidak dapat dihindari bahwa biasanya jika sedang arisan biasanya ibu sering merekomendasikan produknya kepada teman-temannya, apalagi kalau produk tersebut berkesan di benak sang ibu. (kesan yang sangat baik dan sangat buruk tentunya pasti di lontarkan, jadi berhati-hatilah terhadap produk Anda!). Untuk produk peralatan rumah tangga biasanya sering menggunakan jasa komunitas ini, dengan sebutan demo masak, atau apalah. Tapi perlu di sadari bawa word of mom’s merupakan salah satu pembentuk loyalitas mereka terhadap satu merek, dan word of mom’s bisa saja menjadi boomerang jika merek yang di maksud mengecewakan.
Saya yakin prinsip-prinsip di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak strategi yang dapat dilakukan untuk membidik pasar ibu, tapi paling tidak dengan prinsip-prinsip di atas, dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi Anda yang merasa memerlukan.
